RUMAH KONTRAK

Penulis: IL. Parsudi
Akun Facebook: https://www.facebook.com/iparsudi

Dari kejauhan rumah kontrakan itu tampak tidak terawat. Di setiap sudut halaman tumbuh rumput ilalang. Daun-daun kering berserakan di sana-sini. Menurut orang sekitar, setiap orang yang tinggal di rumah itu selalu mendapatkan masalah. Entah hidupnya akan mudah terombang-ambing keadaan, tidak punya pertimbangan moral, ingin cepat kaya tanpa usaha, entah akan mudah lupa diri. Hidupnya mesti menderita.

Saya  tetap saja mengontrak rumah itu. Kini rumah kontrakan itu tampak bersih dan sejuk. Pada salah satu sudut halamannya tumbuh pohon mangga yang tidak terlalu besar tapi cukup memberikan keteduhan. Di teras rumah berjejer rapi tanaman hias bougenvil, anggrek, euporbia, adenium, cocor bebek, lidah buaya, dan karet-karetan.

Dua bulan sudah saya tinggal di rumah kontrakan itu sendirian. Tapi, sebulan kemudian, saya menjemput istri saya, Prici, untuk tinggal bersama-sama dalam rumah kontrakan itu.

“Ini buah kerjaku selama ini,” kataku sambil menunjukkan sebuah kompor minyak di sudut dapur dan beberapa piring tergeletak di lantai serta lemari pakaian dari kardus bekas aqua di sudut kamar.

Prici hanya tersenyum. Pikirannya tidak ingin tergoda oleh keadaan yang sedang diperjuangkan. Wajahnya seakan mau mengatakan bahwa menghargai lebih bermakna daripada mengomentari kenyataan. Tapi kemudian dia termenung. Pikirannya terhenti pada sebuah kamar yang baru saja dilihatnya.

“Jangan kuatir. Semua sudah kupikirkan” Saya mencegat pikirannya.

“Ya, aku tahu. Aku tak ingin membuatmu terdesak oleh segala kebutuhan yang sedang berkerumun di depan kita,” sahutnya.

 “Semuanya pasti lancar!” Saya meyakinkan diri.

Tapi kemudian ada pikiran-pikiran yang tiba-tiba mengerubuti: kawin tanpa kehadiran orang tua, sebentar lagi punya anak, kerja belum mapan, rumah masih kontrak, belum punya apa-apa lagi. Sementara itu di kantor kerja, rekan-rekan saya membuat hati makin tidak tenang. Mereka mengajukan pertanyaan yang jawabannya sedang saya pikirkan.

“Apa yang belum ada?” tanya salah seorang rekan perempuan menunjukkan perhatiannya.

“Prici hanya ingin tahu keadaanku di sini. Beberapa hari lagi dia pulang?” jawabku ragu.

“Pulang? Kasihan perut istrimu? (Mungkin hatinya juga berkata: bukankah orang kawin sebaiknya serumah? Hidup bersama mertua banyak resikonya? Harus bermental baja!)”

Saya hanya melempar senyum timbang-timbang sambil berlalu meninggalkan kantor. Pikirannya seperti membiarkan saja keadaan mau membawanya ke mana. Memang, sebaiknya aku tidak jauh-jauh dari istriku. Saat-saat seperti ini Prici sangat membutuhkanku. Aku harus konsentrasi mendampingi Prici.

ΔΔΔ

Malam larut. Langit tampak cerah bertaburan bintang. Di ruang tamu tak berkursi meja, saya dan Prici merenung-renung, bukan saja situasinya saat itu, melainkan juga rencananya ke depan.

“Sebaiknya kau tetap di sini saja. Perutmu sudah besar saja. Aku khawatir tidak bisa menjaganya. Cepat atau lambat, kau pasti melahirkan. Aku akan lebih tenang bila kau ada di sini?”

Kata-kata itu terlontar saja dari mulutku. Seakan ia tak peduli bahwa sebenarnya saya belum cukup siap menghadapi semuanya.

Prici tak menjawab dan hanya meringkuk tenang dalam pangkuan menunggu waktu yang tak tentu. Sorot matanya seakan pasrah. Barangkali perasaannya juga tak kuasa memutuskan. Saya memahami perasaannya.

Malam mulai merambat. Saya menatap dalam-dalam perutnya yang makin membesar. Saya berkata kepada diri saya sendiri:

“Di rumah kontrakan ini juga Sastro, sosok mungil manis akan datang kepadamu. Mungkin hari ini juga. Esok mungkin juga. Atau mungkin kapan. Kini waktunya untuk menyiapkan semuanya. Beli popok, ranjang bayi, beberapa pakaian kecil, dan beberapa boneka kecil yang lucu.

Sastro, kamu akan sibuk dan tak punya banyak waktu untuk dirimu sendiri. Kamu mungkin juga akan kurang tidur. Sosok mungil manis itu akan selalu kamu bayang-bayangkan setiap saat ke mana kamu pergi. Suaramu yang mantap berwibawa akan sangat dia kenal, bayimu tahu siapa kamu, meski dia masih imut-imut.

Jangan pikirkan rumah bersalin, perlengkapan persalinan, dan lain-lainya, tapi bayangkanlah sentuhan lembut jari-jari mungilnya yang lucu akan kamu ciumi sepuas-puasnya, dan jantung yang berdetak pasti karena rahmat Tuhan yang berkelimpahan.

Jika kamu berdiri di dekatnya dan dengan penuh cinta memandangnya dengan senyum, saat itulah kamu akan sadar, jauh di dalam hatimu, kamu bertanya pada dirimu sendiri tentang apa artinya menjadi orangtua.

Sastro, kapan pun dia datang, sambutlah dengan penuh cinta dan kamu akan belajar, jauh lebih banyak segala sesuatu tentang hidup daripada yang terkatakan manusia. Si mungil manis itu tiada duanya. Kamu dan juga Prici istrimu akan bangga.”

Malam larut. Saya merebahkan tubuh, tapi mata belum juga terpejam. Suasana begitu tenang. Barangkali suasana hati saya saja yang belum tenang. Belum lama saya melirihkan suasana hati, Prici terbangun. Katanya perutnya mulas. Pinggangnya pegal-pegal. Saya merasakan bau orang melahirkan.

“Aku belum pernah melahirkan. …belum pernah ada yang mengatakan kepada saya apa yang harus saya lakukan waktu melahirkan.” kata Prici gugup.

“Kalau sudah waktunya, semuanya akan beres,” kataku. Prici mengangguk. Tapi hatinya masih juga bertanya, apakah waktunya sudah tiba.

Hari itu hari Rabu sore. Rumah kontrakan terasa sepi. Prici ingin seseorang –siapa saja– datang menjenguknya. Prici cemas sekali. “Akankah aku melahirkan sendirian. Aku belum pernah mengalaminya. Ini anak pertama. Belum pernah kudengar apa yang harus kulakukan waktu melahirkan,” katanya.

Ya, saatnya sudah tiba. Jam sepuluh malam si bayi semakin kuat mendorong. Prici merintih kesakitan. Rasa sakitnya semakin kuat dan sering.

“Ambil napas dalam-dalam, tahan, lalu dorong!” perintahku menirukan apa yang pernah saya dengar dari bidan.

Prici mematuhi. Tak lama kemudian, Prici mengejan untuk terakhir kali dan menjerit tertahan. Menangislah bayi mungil yang masih basah dan licin itu.

Semuanya terjadi serba cepat: menikah, tiga bulan kemudian hamil, berjauhan dengan suami karena pekerjaan, beberapa hari kemarin datang ke rumah kontrakan, dan sekarang lahirlah bayi mungil manis. Prici menangis bahagia. Di saat yang paling membahagiakan, tak satu pun saudara di sampingnya.

Tetapi, Prici bangga dengan keadaan itu dan sekarang ia hanya ingin belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik saja:

“Ya, menjadi ibu yang baik untuk keluarga. Bangun pagi-pagi. Merapikan tempat tidur. Gosok gigi. Berjalan-jalan menghirup dinginya udara pagi dengan suami. Menyapu lantai. Memasak air. Mencuci piring. Menyiapkan kopi untuk suami tercinta. Menghangatkan makanan untuk sarapan pagi. Dan mengecup pipi suami saat mau berangkat kerja sambil berpesan agar berhati-hati dalam perjalanan dan pekerjaan.

Aku juga hanya ingin belajar hidup lebih tenang. Belajar menerima kenyataan. Belajar mengampuni. Belajar menyemangati suami agar tidak lekas loyo dalam menjalani liku-liku hidup. Belajar berdoa untuk sang bayi agar jangan merepotkan orangtuanya.

Sekali waktu aku juga hanya ingin menambah pengetahuan dengan membaca buku atau majalah. Mencari bahan tentang bagaimana meningkatkan penghasilan keluarga, tentang bagaimana mengampuni orang lain, tentang bagaimana menjaga kebugaran tubuh, tentang bagaimana mendidik anak dengan sabar dan menumbuhkembangkan, dan tentang yang lain-lain yang dapat menjadikan dirinya sebagai ibu rumah tangga yang baik.

Sekali waktu aku juga hanya ingin mendengarkan berita-berita televisi. Mendengarkan musik klasik sambil tiduran.”

Tak terasa hari sudah hampir pagi. Ya… Saya telah menjadi seorang bapak sekaligus bidan bagi anak istri saya. Syukur kupanjatkan kepada Sang Pencipta atas anugrah yang tak terkira.

(Blitar, 10 Februari 2000).

#hadiahulangtahun-untuk skolastikaintanari
#hidupinikontraksaja


183 Dilihat
Bagikan:
Share