PENTIGRAF

Penulis: IL. Parsudi

1. Gadis Tomboi

Lukisan “Gadis Tomboi” itu masih tampak kasar. Aku belum mampu menyelesaikannya juga. Dan aku malah jatuh dalam ketidakdewasaan diri lagi. Aku terlalu sembrono, berlebihan, menganggap diri sangat memahaminya.

Tanganku gemetar. Mataku yang semakin tua makin kabur melihatnya. Merah kulihat pink, putih kulihat salju yang amat dingin, cintanya kulihat nafsu saja. Jelas pasti aku gagal lagi menyempurnakannya.

Senja masih kutahan sampai mataku benar-benar jernih melihatnya.

2. Sastya & Setya

21th sudah jejakmu kucari. Selama itu pula aku hanya sibuk bermain bayang dan kata “setya & sastya”. Setiap kali aku masuk dunia maya, aku hanya bermain kata-kata itu didampingi oleh jiwa yang sedang mencari tautan. “Mana dia?” Kutukar, kubalik, dan sempat juga kuganti. Siapa tahu, akunmu kutemukan. Ternyata tidak kutemukan juga. Tapi aku beruntung tak pernah sedikitpun berhenti memikirkannya karena aku masih ingin membayar budi. Aku pernah……. Hiks… .

Rupanya waktupun  sering mengamati pencarianku, permainanku. Permainan memang kadang merupakan suatu keberuntungan dan manusia sering memakhluminya. Homoluden.

Tak sengaja permainan sekian tahun lamanya selesai dalam menit. Perasaan kuat ternyata tidak menentukan hasil temuan. Ketidaksengajaan malah mengantarku pada temuan yang selama ini kudambakan. Ya… Temuan seorang manusia yang pernah mengisi waktu hidupku. “Sastya.”

Meski kini aku tak ingin menemuinya, jiwaku telah bertemu dengannya.

(Malam Keberuntungan, Oktober 2017, Pkl. 23.59 WIB). 

3. Buah Rindu

Di pelataranmu yang luas dan sejuk  itu aku terhenti. Menatap rumahmu yang apik nan asli. Bangunan itu masih saja kokoh.  Retakan dinding karena pintu yang kau banting itu masih ada dan belum kau tambal. Aku tahu kita bukan sekadar tukang tambal. Lampu remang di teras yang sering menemani kita itu juga tidak kau ganti yang lebih terang. (Ah…aku tak ingin mengusik ketenanganmu, kedamaianmu pula). Itu hadiah untuk anak cucu kita dan seluruh penghuni rumah kita. Burung gereja di bawah atap itu juga masih riuh dengan suaranya.

Tak perlu kita bertanya, “Itu semua milik siapa dan untuk siapa?” Itu semua milik Sang Kehidupan. Kita hanya diperkenankan menjaganya. Bukan karena kita berkuasa atau diberi kuasa melainkan karena kita ini makhluk lemah tak berdaya.

Tampaknya kau pulas sekali. Hari mulai pagi. Pelataranmu sudah mulai berembun. Baiklah. Aku percaya kau akan segera bangun dan mengindahkan pelataranmu kembali.

(Menjelang Pagi, 2017) 

4. Rumah Kontrak Itu

Di rumah kontrak ini kamu hadir di dunia ini tanpa ayah di sampingmu, tidak seperti ketika kakak-kakakmu lahir. Maka ibumu sering mengunci pintu dari dalam lalu seperti biasa menaruhnya di atas pintu sehingga ketika ayah pulang tak perlu merepotkan ibumu. 

Nah, saat kamu akan  lahir, kamu tahu… kunci yang biasa ditaruh di atas pintu terjatuh di balik pintu sehingga ayah harus lewat jendela untuk menyelamatkanmu. Tapi ternyata kamu lebih cekatan daripada ayah. Begitu ayah masuk rumah, tangismu terdengar lantang.

….

Ayah tahu sekarang, pada usia sd-mu ini kamu ingin sekali bermanja-manja di dekat ayah. Hari ini pula kamu boleh bermanja-manja di pelukan ayah, ibu, kakak, dan adikmu…. Selamat menikmati hari indahmu.

5. Bau Melahirkan 

Malam mulai merambat. Aku menatap dalam-dalam perutnya yang makin membesar. Sambil menikmati Chicken Soup Jack Canfield dan kawan-kawan, aku  berkata kepada diriku sendiri:

“Di rumah kontrakan ini juga IL, sosok mungil manis akan datang kepadamu. Mungkin hari ini juga. Esok mungkin juga. Atau mungkin kapan. Kini waktunya untuk menyiapkan semuanya. Beli popok, ranjang bayi, beberapa pakaian kecil, dan beberapa boneka kecil yang lucu.

IL, kamu akan sibuk dan tak punya banyak waktu untuk dirimu sendiri. Kamu mungkin juga akan kurang tidur. Sosok mungil manis itu akan selalu kamu bayang-bayangkan setiap saat ke mana kamu pergi. Suaramu yang mantap berwibawa akan sangat dia kenal, bayimu tahu siapa kamu, meski dia masih imut-imut.

Jangan pikirkan rumah bersalin, perlengkapan persalinan, dan lain-lainya, tapi bayangkanlah sentuhan lembut jari-jari mungilnya yang lucu akan kamu ciumi sepuas-puasnya, dan jantung yang berdetak pasti karena rahmat Tuhan yang berkelimpahan.

Jika kamu berdiri di dekatnya dan dengan penuh cinta memandangnya dengan senyum, saat itulah kamu akan sadar, jauh di dalam hatimu, kamu bertanya pada dirimu sendiri tentang apa artinya menjadi orangtua.

IL, kapan pun dia datang, sambutlah dengan penuh cinta dan kamu akan belajar, jauh lebih banyak segala sesuatu tentang hidup daripada yang terkatakan manusia. Si mungil manis itu tiada duanya. Kamu dan juga Retno istrimu akan bangga.”

Malam benar-benar larut. Aku merebahkan tubuh, tapi mata belum juga terpejam. Suasana begitu tenang tapi hatiku belum juga bisa tenang. Belum lama aku melirihkan suasana hati, Di terbangun. Katanya perutnya mulas. Pinggangnya pegal-pegal. Aku merasakan bau orang mau melahirkan.

97 Dilihat
Bagikan:
Share