Sejarah Singkat

Cita-cita Pendirian Seminari. Pendirian Seminari sejak semula merupakan harapan para misionaris yang berkarya di wilayah Prefektur Apostolik (lalu Vikariat Apostolik) Surabaya, sebagai “puncak segala karya misi” . Pendirian Seminari merupakan cita-cita Prefek Apostolik Mgr. Theophiel de Backere CM (1882-1945) dan pengganti beliau, Vikaris Apostolik Mgr. Michael Verhoeks CM (1893-1952). Pendirian Seminari selama periode misi tertunda karena krisis ekonomi dan perang. Sesudah Perang Dunia II, cita-cita ini menjadi lebih mendesak. Gereja Indonesia sendiri didesak oleh Delegatus Apostolik (Utusan Paus) agar tidak menunda-nunda pendirian seminari menengah di daerah yang belum memilikinya.

Perintis Seminari. Perintis berdirinya seminari adalah imam CM pribumi pertama, Rm. Ignatius Dwidjasoesastra CM (1910-1975). Beliau pada 1946-1949 bertugas sebagai Pastor Paroki St. Vincentius Kediri, dan oleh Vikaris Apostolik, Mgr. Michael Verhoeks CM, ditunjuk sebagai Vicarius Delegatus (Utusan Vikaris untuk wilayah Vikariat yang saat itu dikuasai oleh Republik Indoensia.

Pendirian Seminari. Mengikuti norma-norma Hukum Gereja, Seminari dari segi sahnya didirikan oleh Mgr. Michael Verhoeks CM, sebagai Vikaris Apostolik Surabaya saat itu. De facto Seminari “didirikan tanpa peresmian” dengan tibanya Perintis Seminari, Rm. Ignatius Dwidjasoesastra CM bersama 8 pemuda calon imam dari wilayah Vikariat Apostolik Surabaya yang dikuasi oleh Republik, di Pastoran Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya, pada 29 Juni 1948, Hari Raya Santo Petrus dan Pulus, saat Revolusi Kemerdekaan RI. Kedatangan Perintis dan para “seminari awal” yang mengejutkan ini mendapat sambutan positif dari para imam dan Vikaris Apostolik di Surabaya, hingga selanjutnya tanggal 29 Juni 1948 itu dinyatakan sebagai hari berdirinya Seminari.

Perkembangan awal. Kegiatan pembinaan diadakan di pastoran Paroki Kepanjen segera setelah kedatangan para seminari, dengan fasilitas dan kelengkapan terbatas, sehingga sebenarnya belum dapat sungguh-sungguh disebut sebagai seminari dalam arti dan bentuk seperti sekarang. Bertugas pertama kali sebagai Rektor Rm. J.H. van Megen CM (1898-1994), Superior Missionis CM yang tinggal di Kepanjen, yang juga bertugas sebagai Pro-Vikaris. Pada 25 Februari 1950, Seminari pindah ke Jl. Dinoyo 42 Surabaya, dekat Katedral Hati Kudus Yesus, maka disebut “Seminari Dinoyo”. Seminari berkembang karena besarnya perhatian para imam dan Vikaris Apostolik Surabaya serta umat pada umumnya. Perkembangan ini mendapat perhatian pula dari Delegatus Apostolik (Utusan Paus) saat itu.

Seminari Garum. Dari semula oleh Mgr. Michael Verhoeks CM diinginkan, agar “kalau keadaan sudah memungkinkan Seminari pindah secara definitif ke pusat misi, ke Blitar, di sana lebih baik untuk lebih banyak panggilan.” Seminari yang sudah amat berkembang akhirnya dipindahkan dari Dinoyo Surabaya ke Garum Blitar, pada 1 Oktober 1958, ketika Mgr. Johannes Klooster CM (1911-1990) telah menjabat sebagai Vikaris Apostolik. Seminari memperoleh tempat lebih ideal dan permanen untuk membina calon imam, yang lebih menggambarkan ciri lokal dan misioner di lingkungan pedesaan Jawa, sesuai dengan semangat Gereja saat itu. Sejak 1958, Seminari biasa disebut “Seminari Garum”

Perubahan struktur kelas-kelas. Sejak 1981, Seminari tidak menerima lulusan SD, dan sejak 1984, lulusan SMP tidak lagi ditampung di KK-SMP, lulusan langsung masuk kelas 1 SMA. Maka struktur kelas-kelas yang berlaku sejak awal Seminari berubah, dari sistem 7+3 kelas (Kelas I – IV, mulai dari kelas 1 SMA, dengan tambahan KK-SMP, KK SMA1 dan KK-SMA2) ke sistem 4+1 kelas (Kelas I – IV, mulai dari kelas 1 SMA, dengan tambah KK). Kelas VII, yang selama bertahun-tahun dititipkan di IPI (Institut Pastoral Indonesia) Malang, kini ditangani sendiri di Kelas IV. Lulusan SLTA yang diterima sebagai siswa Seminari masuk ke Kelas Khusus (KK) selama 1 (satu) tahun, lalu bergabung dengan eks-kelas III SMAK Seminari di Kelas IV. Perubahan sistem ini terjadi saat Rm. Adam van Mensvoort CM (1927-1986) menjabat Rektor, Uskup Surabaya dijabat oleh Mgr. Alloysius Dibjokarjono Pr (1917-2002).

sumber: Buku Pedoman Seminari

Bagikan:
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *